Sejarah

Aliansi Minahasa, Belanda, dan Ternate Mengusir Spanyol dari Wilayah Sulawesi Utara

Pastor Ambrosius Wuritimur dalam bukunya "karya misi di wilayah Sulawesi Utara", mengatakan kepala-kepala walak bermusyawarah di Watu Pinabetengan

Penulis: David Manewus
Editor: David Manewus
Tribun manado/Andreas Ruauw
Ilustrasi Ritual di Watu Pinabetengan 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Wilayah Sulawesi Utara bukan hanya daratan Minahasa, tetap juga wilayah lautnya. Memang Spanyol sudah terusir dari wilayah darat Minahasa, dan akibatnya ialah "mati" juga karya misi di wilayah darat Minahasa.

Tetapi, wilayah lautnya belum ditaklukkan.

Di wilayah laut, kapal-kapal Spanyol masih berlayar kesana-kemari, meskipun mereka tidak berani berlabuh di pantai-pantai Minahasa.

Sementara kepala-kepala Walak Minahasa sendiri ingin agar Spanyol keluar sama sekali dari wilayah ini, baik darat maupun lautnya.

Pastor Ambrosius Wuritimur dalam bukunya "karya misi di wilayah Sulawesi Utara", mengatakan kepala-kepala walak kemudian bermusyawarah di Watu Pinabetengan mengenai cara mengusir orang Spanyol.

Muncullah dalam musyawarah itu ide untuk meminta bantuan dari kompeni Belanda yang seingat mereka pernah datang ke Minahasa untuk berdagang dan membeli beras.

Ide ini dibahas dan diputuskan dalam musyawarah bahwa "baiklah Pa hasaan Malesung mengadakan persekutuan dengan Kompeni Belanda.

Persekutuan untuk menentang bangsa Sepanyol.

Sebab bukankah bangsa Sepanyol itu, musuh Kompeni Belanda juga"

Dasar dari permintaan bantuan dan mengadakan persahabatan dan persekutuan ini ialah makariaan wo mahasaan yang oleh VOC disebut Vrundschap ende alliantie (Taulu dan Lontoh 1978:19).

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved