Sejarah

"Martir-Martir" di Tanah Sulawesi, Wilayah Keuskupan Manado

Karya misi pada abad ke-16 dan ke-17, cukup banyak juga misionaris yang telah menjadi martir

Penulis: David Manewus
Editor: David Manewus
zoom-inlihat foto
Istimewa
Ilustrasi Martir

Scalamonti pergi juga kemudian ke Ternate untuk perawatan. Setelah mereka sembuh mereka kembali ke Manado.

Tak lama di Manado, Scalamonti meninggal pada permulaan tahun 1610. Pastor Pinto kemudian kembali untuk kedua kali ke Ternate karena sakit (Bulkmann 2011:50-52).

4. Pastor Blas Palomino di Kema

Martir lainnya ialah pastor Blas Palomino. Tentang kejadian-kejadian dan kemartirannya, Pastor Pedro de la Concepcion telah menceritakannya di bawah sumpah.

Pastor Blas Palomino sendiri adalah seorang Fransiskan. Sebelumnya ia sudah bekerja di Filipina dan membuat studi bahasa.

Ia datang di Manado tahun 1619 bersama dengan pastor Diego de Rojas dan bruder Juan de. S. Bernardino. Di Manado mereka berusaha masuk ke desa-desa : Kale, Kakaskasen, Tomunn, Sarronson, Tombarisi, Tondano, Las Quemas, dll. (nama-nama ini tertulis sebagaimana yang terdapat pada teks asli).

Desa-desa ini memberi kesan tidak menerima misionaris-misionaris itu dengan banyaknya dalih yang mereka ungkapkan. Sebagaimana sudah dilaporkan sebelumnya oleh Bulkmann:

"Orang-orang Alifur suka menerima hadiah, tetapi perhatiannya tidak lebih dari itu. Mereka punya bermacam-macam dalih untuk membenarkan diri: panen harus dipetik, dewa-dewa melawan, mereka harus lebih dahulu "bicara" dengan desa-desa lain, dst.

Mereka memberi kesan bahwa imam-imam itu tidak diterima... Mereka tidak punya waktu...

Kalau mereka toh jadi Kristen, mereka tetap mau memertahankan praktek-praktek kafir. Para "walian" (imam-imam kafir) tidak mau tersingkirkan" (Bulkmann 2011:52-53).

Pastor Palomino sendiri sebenarnya kesehatannya tidak cukup bagus, maka ia sudah menerima sakramen-sakramen terakhir dari pastor Diego de Rojas. Ketika mulai agak pulih kesehatannya, ia ikut kapal ke Makassar untuk melaporkan pengalamannya kepada Komisaris di Makassar.

Setelah beberapa bulan di Makassar dan ia sudah cukup sehat, ia kembali ke Ternate. Ia ditemani oleh konfraternya Pedro de la Conception melalui pantai Timur. Beberapa tempat mereka singgah untuk mengambil air dan makanan, termasuk di Pantai Kema yang tidak jauh dari Manado.

Di Kampung Kema mereka turun dan berunding dengan orang-orang desa dibantu oleh seorang penerjemah asal Portugis. Saat perundingan itu, pastor Pedro melihat orang-orang bersenjata di balik pohon-pohon, ia merasa ada bahaya.

Sebaliknya, Pastor Palomino tidak menganggap bahwa ada bahaya yang mengancam. Tiba-tiba seorang anak buah kapal berteriak: "Pengkhianat".

Para prajurit memegang senjatanya tapi terlambat. Suatu tusukan tombak membunuh Pastor Palomino.

Para pembunuh kemudian melarikan diri. Palomino meninggal seperempat jam kemudian di tangan konfraternya.

Mereka menguburnya di suatu pulau kecil (lembeh? Batu Nona? Pulau Dua?) dan setengah tahun kemudian jenazahnya dibawa ke Ternate, dan dikubur dalam gereja S. Antonio.

Menurut Wessels, SJ, Palomino mati pada tanggal 22 Agustus 1620. Namun menurut Visser MSC ia meninggal 30 Agustus 1622. Tetapi rupanya yang benar ialah apa yang dikatakan oleh Wessels karena sesuai dengan satu surat dari Pastor Massonio (Bulkmann 2011:53).

Palomino sebenarnya menulis juga mengenai kebudayaan Minahasa, misalnya karyanys Arte de la lengua de Manados (Seni Bahasa Manado); Ia juga menyusun suatu Katekismus sederhana dan mencatat satu dua hal tentang agama, kebiasaan, cara hidup, dll dari kaum Alifuru (Bulkmann 2011:53). Pastor Palomino sebenarnya telah membuat suatu laporan yang panjang tentang karyanya dan pengalamannya di Minahasa.

Laporan itu tercatat dengan tempat dan tanggal Manado 8 Juni 1619. Laporan ini aslinya sekarang tersimpan di perpustakaan Pastrana (Bulkmann 2011:53-54).

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved