Sejarah

"Martir-Martir" di Tanah Sulawesi, Wilayah Keuskupan Manado

Karya misi pada abad ke-16 dan ke-17, cukup banyak juga misionaris yang telah menjadi martir

Penulis: David Manewus
Editor: David Manewus
zoom-inlihat foto
Istimewa
Ilustrasi Martir

Ia melakukan itu dengan memanfaatkan Sultan Ternate, Tibori. Dalam hal ini, Gubernur Maluku tidak bertindak secara langsung untuk menghentikan pengaruh Spanyol karena ia terikat oleh perjanjian "Perdamaian Munster" antara Belanda dan Spanyol yang isinya antara lain menyatakan bahwa Belanda dan Spanyol secara resmi mau hidup damai satu dengan yang lain.

Atas persekongkolan itu, armada gabungan Ternate dan Belanda mula-mula menuju Kaidipan di mana Pastor Juan Turcotti berkarya. Ratu Kaidipan lalu dipaksa dengan ancaman oleh Padtbrugge untuk setia kepada Belanda, dan Pastor Turcotti harus keluar dari sana.

Turcotti kemudian kembali ke Siau. Dari Kaidipan armada Ternate-Belanda menuju ke Siau dan berlabu di Ulu pada tanggal 23 Oktober. Tentara Spanyol yang sedikit tidak mampu melawan kekuatan yang besar.

Maka, terjadilah pembunuhan yang seram dan penjarahan-penjarahan. Gereja diperlakukan tidak hormat, hiasan dimusnahkan atau dicuri.

Ketiga imam yang berada di Siau ditangkap. Mereka meminta untuk diungsikan ke Filipina tetapi ditolak (Bulkmann 2011:73).

Imam-imam ini lalu dibawa ke Ternate untuk ditawan selama satu setengah tahun. Setelah itu mereka dikirim ke Batavia dan tiba di sana pada tanggal 15 Oktober 1679. Kemudian pada tanggal 5 Juni 1680 Pastor Zebreros dikirim ke Manila via Macao, sedangkan pada tanggal 7 Juli pastor Espanol dan pastor Turcotti diberangkatkan ke Macao (Bulkmann 2011:75).

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved