Sejarah

"Martir-Martir" di Tanah Sulawesi, Wilayah Keuskupan Manado

Karya misi pada abad ke-16 dan ke-17, cukup banyak juga misionaris yang telah menjadi martir

Penulis: David Manewus
Editor: David Manewus
zoom-inlihat foto
Istimewa
Ilustrasi Martir

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pastor Ambrosius Wuritimur dalam bukunya "karya misi di wilayah Keuskupan Manado" mengatakan dalam melaksanakan karya misi pada abad ke-16 dan ke-17, cukup banyak juga misionaris yang telah menjadi martir, entah martir dalam arti mereka dibunuh tatkala mereka melaksanakan karya misi atau martir dalam arti mereka telah memberi diri sepenuhnya untuk melaksanakan karya misi itu tanpa harus ditumpahkan darahnya.

1. Pastor Sebastian de San Jose di Kaidipan dan Bruder Antonio de S. Anna di Tagulandang

Pastor Sebastian de San Jose berasal dari ordo Fransiskan. Ia tiba di Ternate tahun 1606 dan 1610. Ia sempat bekerja di Ternate untuk beberapa orang Kristen di Ternate.

Namun, karena karya di Ternate tidak sebagaimana diharapkan, sementara ia ingin ada di tengah-tengah penduduk, sehingga ia memilih Sulawesi. Keinginannya ini sesuai dengan permintaan orang Minahasa yang menginginkan imam-imam datang ke tempat mereka, selain untuk maksud kerjasama juga guna mendapat bantuan perlindungan terhadap kemungkinan ancaman dari Ternate dan Makassar yang memiliki bajak lautnya.

Pastor Sebastian de San Jose yang diutus untuk menjawab permintaan itu oleh panglima Spanyol Cristobal Axcueta Manchaca (1610-1612) pada tanggal 30 Mei 1610. Ia diutus bersama dengan bruder Antonio de S. Anna. Mereka tiba di Manado pada permulaan Juni 1610.

Setelah sehari di Manado ia pergi ke Cauripa (Kaidipan). Dari Kaidipan ia hendak ke Buol untuk menemui raja Buol yang sudah dibabtis di Siau beberapa tahun sebelumnya.

Dalam perjalanan itu rombongannya bertemu dengan beberapa orang beragama lain. Orang-orang beragama lain di Tagulandang itulah yang memanahnya dan memenggal kepalanya pada tanggal 18 Juni 1610, pada umur 44 tahun.

Sesudah itu, mereka mencari Bruder Antonio yang bersembunyi di suatu tempat. Bruder Antonio kemudian ditangkap lalu dibawa ke Tagulandang. Di sana, dalam sebuah pesta kafir ia ditusuk dan ditikam dengan keris, lalu dipenggal kepalanya pada tanggal 24 Juni 1610.

Tiga hari lamanya jenazahnya dipertontonkan di depan umum pada suatu tiang, dan kemudian dibuang ke laut. Namun, jenazah yang dibuang itu terdampar lagi tiga hari kemudian. Maka, jenazah itu lalu diambil dan dikubur di suatu bukit (Bulkmann 2011: 48-49).

2. Juan del Cano di Buol

Juan del Cano adalah imam Fransiskan yang lain yang diutus oleh pimpinan Fransiskan atas izin panglima yang bertindak atas nama raja sebagai penguasa umum dari India. Dalam suratnya pada tanggal 15 November 1611, panglima menulis bahwa "para Fransiskan mendapat izin bekerja di pulau "Matheo" dan "kerajaan Makassar". Juan del Cano kemudian pergi ke Buol melalui Manado.

"Apakah ia pernah bekerja juga di Manado, tidak ada laporannya," kata Pastor Amri, sapaan akrab Pastor Ambrosius. 

Di Buol, del Cano bekerja tidak lama. Ketika mereka mendirikan gereja kecil di Buol, ia jatuh sakit, dan meninggal beberapa hari sesudahnya. Ia dikuburkan di tempat itu dengan perhatian yang besar (Bulkmann 2011: 49).

3. Pastor Joh. Bapt. Scalamonti di Manado

Pastor Joh. Bapt. Scalamonti datang ke Manado atas permintaan raja Manado mengenai perlunya imam dan prajurit. Maka Pastor Scalamonti diutus bersama dengan Pastor Cosmas Pinto dan sepuluh orang prajurit.

Prajurit-prajurit ini dikirim untuk mengamankan pengiriman beras dari Minahasa, tetapi juga untuk perlindungan wilayah Manado seperti yang diminta rajanya. Mereka diterima dengan sangat baik.

Raja, penduduknya, imam-imam itu dan prajurit lalu datang ke patung Salib yang didirikan oleh Pastor Torellas pada waktu ia singgah di Manado. Semula kedua pastor itu mendapat tempat dekat sungai, namun karena tempat itu tidak sehat maka mereka mencari tempat lain, dan mendirikan rumah dan gereja kecil di situ.

Banyak orang datang kepada mereka, tetapi orang-orang itu tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka mengenal iman Katolik. Orang-orang yang dibaptis pertama sudah kembali kepada kehidupan belum beragama, ada yang masuk agama lain baik secara terpaksa maupun secara bebas.

Para prajurit yang datang itu lalu mendirikan benteng dekat muara sungai di bawah pimpinan Francisco Melendes Marques. Pastor Scalamoonti sendiri mulai mengunjungi beberapa tempat, antara lain dua desa di danau Tondano tetapi namanya tidak disebut.

Ia berpikir bahwa ia akan berhasil dalam karya misi ini di pegunungan daripada di Manado dan tempat lain di pesisir. Pinto kemudian kembali ke Ternate beberapa bulan sesudahnya karena sakit.

Scalamonti pergi juga kemudian ke Ternate untuk perawatan. Setelah mereka sembuh mereka kembali ke Manado.

Tak lama di Manado, Scalamonti meninggal pada permulaan tahun 1610. Pastor Pinto kemudian kembali untuk kedua kali ke Ternate karena sakit (Bulkmann 2011:50-52).

4. Pastor Blas Palomino di Kema

Martir lainnya ialah pastor Blas Palomino. Tentang kejadian-kejadian dan kemartirannya, Pastor Pedro de la Concepcion telah menceritakannya di bawah sumpah.

Pastor Blas Palomino sendiri adalah seorang Fransiskan. Sebelumnya ia sudah bekerja di Filipina dan membuat studi bahasa.

Ia datang di Manado tahun 1619 bersama dengan pastor Diego de Rojas dan bruder Juan de. S. Bernardino. Di Manado mereka berusaha masuk ke desa-desa : Kale, Kakaskasen, Tomunn, Sarronson, Tombarisi, Tondano, Las Quemas, dll. (nama-nama ini tertulis sebagaimana yang terdapat pada teks asli).

Desa-desa ini memberi kesan tidak menerima misionaris-misionaris itu dengan banyaknya dalih yang mereka ungkapkan. Sebagaimana sudah dilaporkan sebelumnya oleh Bulkmann:

"Orang-orang Alifur suka menerima hadiah, tetapi perhatiannya tidak lebih dari itu. Mereka punya bermacam-macam dalih untuk membenarkan diri: panen harus dipetik, dewa-dewa melawan, mereka harus lebih dahulu "bicara" dengan desa-desa lain, dst.

Mereka memberi kesan bahwa imam-imam itu tidak diterima... Mereka tidak punya waktu...

Kalau mereka toh jadi Kristen, mereka tetap mau memertahankan praktek-praktek kafir. Para "walian" (imam-imam kafir) tidak mau tersingkirkan" (Bulkmann 2011:52-53).

Pastor Palomino sendiri sebenarnya kesehatannya tidak cukup bagus, maka ia sudah menerima sakramen-sakramen terakhir dari pastor Diego de Rojas. Ketika mulai agak pulih kesehatannya, ia ikut kapal ke Makassar untuk melaporkan pengalamannya kepada Komisaris di Makassar.

Setelah beberapa bulan di Makassar dan ia sudah cukup sehat, ia kembali ke Ternate. Ia ditemani oleh konfraternya Pedro de la Conception melalui pantai Timur. Beberapa tempat mereka singgah untuk mengambil air dan makanan, termasuk di Pantai Kema yang tidak jauh dari Manado.

Di Kampung Kema mereka turun dan berunding dengan orang-orang desa dibantu oleh seorang penerjemah asal Portugis. Saat perundingan itu, pastor Pedro melihat orang-orang bersenjata di balik pohon-pohon, ia merasa ada bahaya.

Sebaliknya, Pastor Palomino tidak menganggap bahwa ada bahaya yang mengancam. Tiba-tiba seorang anak buah kapal berteriak: "Pengkhianat".

Para prajurit memegang senjatanya tapi terlambat. Suatu tusukan tombak membunuh Pastor Palomino.

Para pembunuh kemudian melarikan diri. Palomino meninggal seperempat jam kemudian di tangan konfraternya.

Mereka menguburnya di suatu pulau kecil (lembeh? Batu Nona? Pulau Dua?) dan setengah tahun kemudian jenazahnya dibawa ke Ternate, dan dikubur dalam gereja S. Antonio.

Menurut Wessels, SJ, Palomino mati pada tanggal 22 Agustus 1620. Namun menurut Visser MSC ia meninggal 30 Agustus 1622. Tetapi rupanya yang benar ialah apa yang dikatakan oleh Wessels karena sesuai dengan satu surat dari Pastor Massonio (Bulkmann 2011:53).

Palomino sebenarnya menulis juga mengenai kebudayaan Minahasa, misalnya karyanys Arte de la lengua de Manados (Seni Bahasa Manado); Ia juga menyusun suatu Katekismus sederhana dan mencatat satu dua hal tentang agama, kebiasaan, cara hidup, dll dari kaum Alifuru (Bulkmann 2011:53). Pastor Palomino sebenarnya telah membuat suatu laporan yang panjang tentang karyanya dan pengalamannya di Minahasa.

Laporan itu tercatat dengan tempat dan tanggal Manado 8 Juni 1619. Laporan ini aslinya sekarang tersimpan di perpustakaan Pastrana (Bulkmann 2011:53-54).

5. Pastor Diego de Rojas di Kampung Banta, Manado

Pastor Diego de Rojas ini agak sering disebutkan namanya dan dihubungkan dengan Sulawesi Utara. Ia sudah dua kali datang ke Manado. Ketika pada tahun 1623 Pedro de Heredia (1623-1636), pengganti Bracamonte, singgah di Manado dalam perjalanannya dari Manila ke Ternate, ia berjanji kepada raja bahwa ia akan mengirim satu garnisun baru dengan 40 prajurit, dengan pastor Diego de Rojas sebagai misionaris.

"Apakah janji itu ditepati, tidak dapat dipastikan," ujar Pastor Amri.

Yang kemudian terjadi pada tahun 1624 ialah Pastor Diego de Rojas setelah bekerja di Siau, ia datang ke Manado. Tak lama setelah kedatangannya di Manado, ia jatuh sakit dan meninggal di Kampung Banta, mungkin pada tanggal 12 Juli 1624. Ia dikuburkan di Banta, di lapangan desa (Bulkmann 2011: 54).

6. Pastor Freyre, SJ di Manado

Pastor Freyre datang ke Manado atas permintaan raja Manado tahun 1637 kepada panglima Ternate, Pedro de Mendiola (1636-1640). Raja Manado selain meminta misionaris, ia juga meminta bantuan tentara untuk mengakhiri penjarahan-penjarahan yang dilakukan oleh orang-orang Ternate.

Panglima Ternate menyetujui permintaan itu dan dikirimlah garnisun kecil dan pastor Freyre yang pernah juga bekerja di Siau. Di Manado Pastor Freyre membabtis ratu Manado dan anak-anaknya, dan menyelesaikan perkawinan mereka. Ia meninggal di Manado tahun 1639 (Bulkmann 2011:54).

7. Pastor Lorenzo Geralda di Kali

Pastor Lorenzo Geralda adalah seorang imam Fransiskan asal Spanyol. Ia berkarya di Manado antara tahun 1640-1644. Dalam karyanya ia tinggal menetap di Desa Kali.

Ia adalah seorang imam yang mampu membuat orang-orang Alifuru Minahasa mencintainya bila dibandingkan dengan pengalaman imam-imam lainnya yang mengalami kesulitan dengan orang-orang Alifur Minahasa. Dalam versi cerita dari Bulkmann peristiwa pembunuhan itu terjadi demikian: pembunuhan atas dirinya bermula dari tingkah laku bejat yang sering dilakukan oleh tentara-tentara Spanyol terhadap orang-orang Alifur Minahasa.

Tentara-tentara itu itu sering berlaku congkak dan menghina penduduk setempat. Suatu ketika seorang Spanyol melukai kepala kampung Tomohon.

Kejadian itu membuat datanglah seluruh keluarganya lengkap dengan senjata, dan dari tempat-tempat lain datang, juga bantuan. Pastor Iranzo yang tinggal di Tomohon mula-mula mampu menenangkan penghasut penduduk yang menyatakan bahwa imam-imam asing ini adalah penyebab dari ketidaktenangan para dewa dan karena itu harus dibunuh.

Namun, penduduk terus berkumpul dengan dibunyikannya tanda. Maka, penduduk lalu menyerang dan membunuh kurang lebih 18 atau 19 orang Spanyol.

Irianzo luput dari serangan-serangan itu karena dilindungi beberapa orang Alifur yang bersahabat dengannya. Ia mengingatkan Lorenzo Geralda untuk menyingkir ke pantai, tetapi rupanya sudah tidak mungkin karena penduduk sudah menjaga semua jalan.

Lorenzo Geralda berusaha sembunyi, tetapi akhirnya ia ditangkap. Ia lalu dihina, dipukul, dan akhirnya dibunuh dengan tusukan tombak.

Kepalanya dibawa ke kampung dan dipestakan. Sementara tubuhnya diikat pada suatu pohon yang berada di tengah keramaian pesta. Kejadian ini terjadi pada kira-kira pertengahan Agustus 1644 (Bulkmann 2011: 56-57).

Sementara Pastor Iranzo bersama dengan tentara Spanyol yang tersisa dapat bersembunyi selama kurang lebih delapan bulan, dan mereka dibantu oleh orang Minahasa Alifur yang baik hati terhadap mereka dengan memberi mereka makanan. Dan pada bulan April 1645 pastor Iranzo meninggalkan Minahasa menuju Ternate melalui Sangir rupanya bersama-sama dengan tentara-tentara yang tersisa (Bulkmann 2011: 58).

8. Pastor Juan Turcotti, Pastor Zebreros, dan Pastor Espanol

Ketiga imam ini adalah imam-imam yang tetap berkarya di wilayah Keuskupan Manado walaupun Spanyol sudah hengkang dari Maluku dan Sulawesi Utara. Sampai tahun 1673 mereka masih berada di tempat karya mereka, yaitu pastor Juan Turcotti di Kaidipan, sedangkan dua yang lainnya di Siau dan Sangir.

Imam-imam ini ditangkap dan kemudian dikirim ke Ternate untuk ditawan ketika Gubernur Maluku, Robert Padtbrugge, bersiasat dalam persengkokolannya dengan Sultan Ternate, Tibori, yang mengantikan ayahnya pada tahun 1675. Gubernur Maluku ini memainkan siasat seolah-olah ia tidak berperan apa-apa dalam mengakhiri pengaruh Spanyol di Sulawesi Utara dan Siau.

Ia melakukan itu dengan memanfaatkan Sultan Ternate, Tibori. Dalam hal ini, Gubernur Maluku tidak bertindak secara langsung untuk menghentikan pengaruh Spanyol karena ia terikat oleh perjanjian "Perdamaian Munster" antara Belanda dan Spanyol yang isinya antara lain menyatakan bahwa Belanda dan Spanyol secara resmi mau hidup damai satu dengan yang lain.

Atas persekongkolan itu, armada gabungan Ternate dan Belanda mula-mula menuju Kaidipan di mana Pastor Juan Turcotti berkarya. Ratu Kaidipan lalu dipaksa dengan ancaman oleh Padtbrugge untuk setia kepada Belanda, dan Pastor Turcotti harus keluar dari sana.

Turcotti kemudian kembali ke Siau. Dari Kaidipan armada Ternate-Belanda menuju ke Siau dan berlabu di Ulu pada tanggal 23 Oktober. Tentara Spanyol yang sedikit tidak mampu melawan kekuatan yang besar.

Maka, terjadilah pembunuhan yang seram dan penjarahan-penjarahan. Gereja diperlakukan tidak hormat, hiasan dimusnahkan atau dicuri.

Ketiga imam yang berada di Siau ditangkap. Mereka meminta untuk diungsikan ke Filipina tetapi ditolak (Bulkmann 2011:73).

Imam-imam ini lalu dibawa ke Ternate untuk ditawan selama satu setengah tahun. Setelah itu mereka dikirim ke Batavia dan tiba di sana pada tanggal 15 Oktober 1679. Kemudian pada tanggal 5 Juni 1680 Pastor Zebreros dikirim ke Manila via Macao, sedangkan pada tanggal 7 Juli pastor Espanol dan pastor Turcotti diberangkatkan ke Macao (Bulkmann 2011:75).

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved