Tradisi

Tradisi 'Figura' di Sulawesi Utara (Sulut): Menipu Roh Jahat yang Dianggap Menculik Warga

Orang katanya dapat menipu roh-roh jahat ini dengen bertindak secara aneh, misalnya dengan memakai daun di atas kepalanya.

Istimewa
Tradisi Figura 

TRIBUNMANADOWIKI.COM - Sejumlah pria dan wanita, dari berbagai jenis umur, memakai pakaian yang tertukar, perempuan memakai pakaian pria, dan yang lelaki mengenakan pakaian wanita di Kampung Tomohon, Wenang Selatan.

Setelah berlomba model di sebuah tenda kampung itu, mereka berjalan mengelilingi Kampung Tombariri, Kampung Kakas, dan kembali ke Kampung Tomohon.

Kelompok itu disebut Figura (Spanyol: berarti bentuk atau sosok).

Menurut Dr. Paul Richard Renwarin, dalam buku Matuari Wo Tonaas Jilid I Mawanua (2007) dan keterangan melalui sambungan telepon di hari yang sama, Figura ini sebenarnya adalah 'fosso' atau mengelur (elur artinya membujuk), yang masa kini disebut weresi wanua atau membersihkan desa.

Seratus tiga puluh empat tahun lalu, tepatnya pada 1883, seorang Zendeling bernama Louwerier menurut Renwarin merekam kisah fosso mengelur di Desa Kali.

Warga Desa Kali dilaporkan berperang melawan orang-orang yang sakit, yang menurut Paul Richard merupakan roh-roh jahat yang mengembara tanpa kelihatan.

Kehadiran roh jahat itu diketahui saat daun te'ep (semacam palem, artocapus blume) bergoyang.

Jika daun itu bergoyang, mereka memukulnya beberapa kali sampai daunnya mengeluarkan noda yang diasosiasikan sebagai darah.

Keluarnya darah itu menjadi tanda matinya roh-roh jahat.

Menurut dosen Antropologi Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng itu, Louwerier menulis matinya roh jahat itu tidak tepat karena masih terdapat tiga roh jahat yang bersembunyi pada sebatang pohon aren.

Dikisahkan pada suatu malam, saat penduduk tertidur, roh-roh jahat ini keluar dan masing-masing mengambil satu rumah sebagai mangsanya.

Keesokan harinya, saat roh jahat kembali ke tempat persembunyiannya, penduduk mengetahui serangan roh karena tiga rumah tidak menurunkan tangganya, tanda bahwa semua penghuninya telah tewas.

Ini berlangsung tiga kali sehingga tiga hari sembilan keluarga sudah dibunuh.

"Orang menyadari bahwa mereka dikalahkan," tulis Renwarin dalam bukunya mengutip Louwerier.

Orang-orang itu meminta ampun sambil menjanjikan ritual khusus yang disebut fosso atau mengelur.

Itulah asal ritual pembersihan desa pada saat tanaman padi akan mulai ditanam.

Selama tiga hari penduduk dilarang untuk pergi kebun.

Menurut Renwarin berdasarkan cerita Louwerier selama tiga hari penduduk dilarang untuk pergi ke kebun.

"Pelanggaran terhadap pantangan ini akan menimbulkan dendam dari roh-roh jahat itu," tulis Renwarin.

Orang katanya dapat menipu roh-roh jahat ini dengen bertindak secara aneh, misalnya dengan memakai daun di atas kepalanya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved