Tradisi

Gua / Kandang Natal

Paus Fransiskus dalam Surat Apostolik Admirabile Signum mengungkapkan makna dan pentingnya gua Natal

Istimewa
Kandang Natal 

TRIBUNMANADOWIKI.COM - Paus Fransiskus dalam Surat Apostolik Admirabile Signum mengungkapkan makna dan pentingnya gua Natal.

Ia menyebut Gua Natal (Kandang Natal) sebagai tanda mengagumkan yang sangat disukai umat kristiani.

Gua Natal tak henti-hentinya membangkitkan keheranan dan ketakjuban.

Dengan Gua Natal ada pengambaran kelahiran Yesus sendiri, ada pewartaan sederhana dan sukacita akan misteri Inkarnasi Putra Allah.

Gambaran itu seperti Injil hidup yang muncul dari halaman-halaman Kitab Suci.

Paus mengatakan ketika kita merenungkan kisah Natal, kita diundang untuk memulai sebuah perjalanan rohani, yang berawal dari kerendahan hati Allah yang menjadi manusia untuk menjumpai setiap orang.

Kita menjadi sadar bahwa begitu besar kasih-Nya kepada kita, bahwa Ia menjadi salah satu dari kita, sehingga kita pada gilirannya dapat bersatu dengan-Nya.

"Dengan Surat ini, saya ingin mendukung tradisi indah keluarga dalam mempersiapkan  suasana kelahiran Yesus pada hari-hari menjelang Natal, tetapi juga kebiasaan membuatnya di tempat kerja, di sekolah, di rumah sakit, penjara dan tempat-tempat umum," kata Paus.

Ia mengatakan imajinasi dan kreativitas yang hebat selalu ditunjukkan dalam menggunakan bahan-bahan yang sangat beragam untuk menciptakan hasil-hasil karya indah sederhana.

Sebagai anak-anak, kita belajar dari orang tua dan kakek nenek kita untuk menjalankan tradisi yang penuh sukacita ini, yang merangkum kekayaan kesalehan populer.

Ia berharap agar kebiasaan ini tidak akan pernah hilang; sebaliknya agar, di mana pun kebiasaan itu tidak digunakan, hendaknya dapat ditemukan kembali dan dihidupkan kembali.

1. Asal Mula
Asal mula “gua” Natal ditemukan terutama dalam detail-detail tertentu tentang kelahiran Yesus di Betlehem, sebagaimana disebutkan dalam Injil.

Penginjil Lukas mengatakan secara sederhana bahwa Maria “melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (2: 7).

Karena Yesus dibaringkan di palungan, gambaran kelahiran Yesus dikenal dalam bahasa Italia sebagai presepe, dari kata Latin praesepium, yang artinya “palungan”.

Datang ke dunia ini, Anak Allah dibaringkan di tempat binatang-binatang diberi makan. Jerami menjadi alas tidur pertama dari Dia yang akan menyatakan diri-Nya sebagai "roti yang telah turun dari surga" (Yoh 6:41).

Santo Agustinus, bersama para Bapa Gereja lainnya, terkesan oleh simbolisme ini ketika ia menulis: “Dibaringkan di palungan, Ia menjadi makanan kita” (Sermon 189, 4).

Ia mengatakan memang, gambaran kelahiran membangkitkan sejumlah misteri kehidupan Yesus dan mendekatkan misteri itu kepada hidup kita sehari-hari.

Tetapi ia mengajak untuk kembali ke asal usul “gua” Natal yang sangat akrab dengan kita.

Kita katanya perlu membayangkan diri kita ada di kota kecil Italia, Greccio, Lembah Reatina.

Santo Fransiskus berhenti di sana, kemungkinan besar dalam perjalanan kembali dari Roma di mana pada 29 November 1223 ia menerima penetapan Regulanya dari Paus Honorius III.

Fransiskus sebelumnya telah mengunjungi Tanah Suci, dan gua-gua di Greccio mengingatkannya pada daerah pedesaan Betlehem.

Mungkin juga bahwa “Orang Miskin dari Assisi” ini telah dikejutkan oleh mosaik-mosaik di Basilika Santa Maria Maggiore Roma yang menggambarkan kelahiran Yesus, yang dekat dengan tempat di mana, menurut tradisi kuno, papan-papan kayu dari palungan disimpan.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved