Tradisi

Mengenal Kumawus, Adat Kematian Minahasa dalam Pengaruh Credo

Mereka mengajarkan Credo (Aku Percaya), yakni pengakuan iman yang sudah dirumuskan Gereja sejak awal-awal kekristenan.

tribun manado/David Manewus
Suasana Kumawus 

TRIBUNMANADOWIKI.COM - Dalam budaya Minahasa kuno, terdapat kepercayaan bahwa kematian hanya mengubah alam dunia.

Pemikiran itu berdasarkan hasil penelitian Hendricus Benedictus Palar, sejarawan Minahasa.

"Hanya badan yang mati, sementara arwah hidup terus dan berpindah ke alam lain," katanya.

Ia menuangkan penelitian itu dalam buku Budaya Minahasa Dalam Catatan Sejarah, sebuah buku keempat khusus tentang sejarah Minahasa.

Palar menekuni kebiasaan warga Minahasa umumnya yang sering menggelar tradisi pasca- kematian anggota kerabatnya, yakni tradisi tiga malam, dumingguan atau kumawus (hari Minggu sesudah kematian), atau empat puluh hari.

Pada tahun 1600-an hadir para pastor tarekat OFM dari Spanyol di tanah Minahasa.

Mereka melanjutkan iman Katolik yang dibawa dari tahun 1500-an.

Mereka mengajarkan Credo (Aku Percaya), yakni pengakuan iman yang sudah dirumuskan Gereja sejak awal-awal kekristenan.

Para imam itu juga mengajarkan ajaran Gereja soal arwah orang beriman.

Kata Palar, para imam Spanyol itu awalnya menemukan bahwa kepercayaan masyarakat Minahasa awalnya politeisme (banyak Tuhan), meskipun saat itu sudah ada pemahaman transendental atau sesuatu yang mahakuasa.

Sebelum kekristenan, arwah nenek moyang sudah didewakan sebagai opo-opo yang menguasai, misalnya mata air atau gunung.

Mereka juga berbicara melalui burung-burung.

Setelah kehadiran para imam Kristen itu, kepercayaan mereka mulai pelan-pelan menjadi monoteisme (satu Tuhan).

Dalam perkembangan selanjutnya, kepercayaan kuno mereka bahkan ditolak dan disebut kepercayaan yang sia-sia.

Pada tahun 1600-an para imam Katolik yang datang berikutnya harus mengalami situasi perang Minahasa.

Mereka terusir dan tak ada lagi pengajaran iman bagi keturunan umat pertama.

Penghayatan iman mereka juga menjadi bias dan pelan-pelan mereka kembali menganut kepercayaan kuno yang dalam istilah kebanyakan orang Minahasa "alifuru", khususnya di daerah seperti Tombulu.

Karena bias, masyarakat membangun tradisi mirip penghayatan Credo.

Dalam Credo yang sebenarnya, kata Palar, dikatakan "(Yesus) yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati, yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa Yang Mahakuasa".

"Dalam tiga malam arwah diyakini hanya tertidur," ujarnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved