Sejarah

Masa Keemasan Suku Bolango Bolsel Sulut Setelah Tileypelu Dinikahi Abram

Bolango kemudian mencapai masa keemasan pertama saat putri Tileypelu dinikahi Abram Gobol

zoom-inlihat foto Masa Keemasan Suku Bolango Bolsel Sulut Setelah Tileypelu Dinikahi Abram
tribun manado/David Manewus
Gerbang Alun-Alun Molibagu

TRIBUNMANADOWIKI.COM - Saleh Echsan Gobel atau biasa dipanggi papa Yogi, Ketua Komunitas Budaya "Sandoba" Bolaang Uki sebelumnya menceritakan kesamaan budaya antara masyarakat Molibagu dengan Lembeh, Bitung.

Gobel kemudian mengisahkan beberapa cerita rakyat di antaranya perkawinan Pulumbula dan Tintingio ialah putri Boligi Dua.

Boligi Dua dikawini Mogolaingo Dua yang kemudian menjadi raja.

Mereka memperoleh anak Sangian Datu (Datubinangkang yang berarti percaya diri, pembangkang VOC).

Sangian Datu yang kemudian menjadi raja itu kawin dengan Lengkiyo dan memiliki anak bernama Prens Dadongkat.

Dadongkat yang merupakan putra mahkota itu kawin dengan Mongili Dua.

Ia mempunyai dua putri yaitu Putri Tileypelu (nama panggilan bagi anak putra mahkota) dan Boilologo (nama panggilan putri cantik jelita) tapi tak betah di rumah.

Penggunaan nama panggilan itu sama dengan adat suku Gorontalo yang merupakan penduduk asli di mana saat itu suku Bolango berada.

Sejak Sangian Datu, mereka berada di Tapa, Gorontalo.

Bolango kemudian mencapai masa keemasan pertama saat putri Tileypelu dinikahi Abram Gobol.

Gobol atau Gobel, keturunan Jerman yang belajar Islam di Baghdad.

Ia penyebar Islam ketika Gorontalo/Hulontalo, Limboto/Limutu, dan Bune/Suwawa sudah diislamkan dan daerah itu memakai sistem kesultanan (sistem lazim pemerintahan Islam pengaruh kesultanan Tidore dan Ternate).

Saat itu, suku Bolango yang berdiam di bagian utara Gorontalo dan menggunakan sistem pemerintahan kerajaan dengan kekuasaan mutlak dan agama yang belum Islam.

Gobol ingin agar Bolango diislamkan.

"Gobol ingin menjadi Bolango sistem kesultanan," kata papa Yogi yang pernah menjadi wartawan Lembaga Kantor Berita Nasional "ANTARA" perwakilan Manado 1976-1978 itu

Akan tetapi karena hati dan jiwa masyarakat Suku Bolango "keras pendirian dan percaya diri", menurut papa Yogi Gobol hanya berhasil mengislamkan keluarga raja dan masyarakat tapi tidak bisa merubah sistem kerajaan dengan demokrasi.

Abraham Gobol dinilai mampu mengemban tugas pemerintahan dengan kejujuran, pandangan luas dan diplomasi.

Ada penataan adat-istiadat, pemberlakuan Islam sebagai agama dan pemberlakuan peraturan untuk kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat.

Hubungan kerja dengan kesultanan lain seperti Hulontalo, Limboto, Bune, dan Atinggola membuat adanya Duluwo Limo Lo Pohalaa.

Dengan itu Gorontalo tidak dapat dijajah Belanda seperti Minahasa.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved