Sejarah Manado Tempo Dulu, Ternyata Bukan di Tempatnya Sekarang

Dari sejarah Minahasa (yang dulunya mungkin disebut Malesung) ada petunjuk-petunjuk sentuhan budaya Hindu Jawa pada nenek moyang kita

Tribun Manado/Fransiska Noel
Daerah Yang Disebut Manado Dulu 

TRIBUNMANADOWIKI.COM - Dari sejarah Minahasa (yang dulunya mungkin disebut Malesung) ada petunjuk-petunjuk sentuhan budaya Hindu Jawa pada nenek moyang kita.

Hal itu dapat dikaji dari beberapa kosa kata Tombulu seperti : wale-balai, uma-huma, lesung-lesung, alu-alu, laka-laki, tina-betina, pisou-pasau, sondo-senduk, laur-laut, tanah-tanah, solo-suluh, wewur-bubur, dan lain-lain.

Namun sampai abad 16, Minahasa belum pernah dijamah secara politis oleh bangsa lain.

 "Pulau-pulau yang terletak di Teluk Manado, Manarow/Manandou, Bunaken, Siladen, Mantehage, Nain dan lain-lain, oleh orang Minahasa-gunung atau Highlanders disebut "Wawo un tewu" sedangkan penduduknya "Tou wawo un tewu" kemudian berubah lafal "Babontehu dan tou Babontehu", dalam arti pulau-pulau yang terapung di atas air, dan orang-orang yang tinggal di tempat yang terapung-apung itu," kata HB Palar dan tim dalam buku Bangkitnya Kembali Umat Katolik Tomohon (Sejarah Kristiani Minahasa)

Mereka adalah pembauran turunan dari  Bolaang Mongondow, Sangir Talaud, Minahasa, juga dari Moro, dan Ternate.

Mereka memilih pemimpin yang disebutnya Kolano.

 Wenang, diambil dari nama Makatana pohon "Hispida Malacanga" adalah pemukiman/tinani taranak Tombulu dari Walak Ares terletak di dataran rendah yang disebut Patarna um Wenang, habitatnya pohon Wenang.

Sedangkan pesisir pantai yang landai yang disebut Tumpaan Wenang, tempat penduduk makatana biasa membuat garam.

Sekarang dikenal sebagai Sario Tumpaan.

 Dari sejarah umum diketahui pada tahun 1521 satu unit armada Spanyol bekas armada laksamana Ferdinand Magelhaens yang telah tewas di Filipina sampai di Tidore dan sebagian lagi singgah di perairan Noord Celebes (jasirah Utara pulau Sulawesi, dari Malesung sampai Toli-toli).

Mereka berkenalan dengan orang Babontehu, yang menunjukkan kepada mereka Tumpaan Wenang itu.

Setelah lego jangkar beberapa saat, mereka berlayar lebih ke Selatan dan berlabuh di Pantai Uwuren (kini sebuah kelurahan di Amurang).

Sebagian awak kapal telah tembus  sampai wanua Kali dipandu orang Babontehu dalam rangka mencari beras.

Mereka tidak tinggal lama.

Sejarah yang ditulis seorang misionaris Fransiskan, Pastor Fernando de Soledade menerangkan bahwa  tahun 1522 laksamana de Britto dari Portugis mendarat bersama 300 anak buah serta beberapa misionaris Fransiskan dan membangun benteng Kastella di Ternate. 

 Tahun 1538 komandan Benteng Kastella, Antonio Galvao (Portugis) mengirim sebuah ekpedisi  penyelidikan ke Noord Celebes, Sangir sampai ke Filipina Selatan.

Tujuan misi ini pertama untuk membuka hubungan dagang antara Portugis dan raja-raja pribumi serta mengkristenkan penduduk setempat.

Setiap ekspedisi Spanyol maupun Portugis mengemban tugas rangkap seperti itu.

Sebab itu dalam setiap armada terdapatlah pedagang-pedagang dan misionaris-misionaris.

Mereka kadang-kadang bertugas rangkap.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved