Sejarah

Ini Sejarah Singkat Kekristenan di Sulawesi Utara

Sejarah gereja adalah sejarah sebuah jawaban dari orang-orang beriman untuk menjadi pengikut Kristus

Istimewa
Ilustrasi Salib 

"Api Pantekosta berkobar dari Azusa Los Angeles, menjalar ke kota Seatle Washington.

Kota itulah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gereja Pantekosta dan melebar hingga ke Indonesia,"ujarnya.

Keterangan bergerak cepat menuju ke sejarah gereja ini masuk Sulawesi Utara.

GPdI mulai berkembang sejak 13 Maret 1929.

Saat itu dua orang pemuda utusan Injil bernama A Tambuwun dan J Repi mendarat di di Pelabuhan Amurang dengan menumpang kapal motor "Van Der Hagen".

Kedatangan mereka sudah dinubuatkan saudari D Kalangi.

Ketua umum Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM), Gembala Tedius K Batasina, Sth mengatakan KGPM berdiri 29 Oktober 1933.

Gereja ini memiliki banyak julukan seperti gereja pembangkang dan gereja merdeka. Gereja ini lahir dari keinginan tokoh-tokoh yang bukan teolog karena ingin adanya gereja mandiri yang terpisah dari tangan negara penjajah Belanda.

"Tokoh-tokohnya antara lain G S S J Ratulangi, R Tumbelaka dan AA Maramis,"katanya.

Pastor Petrus Tinangon, SS Lic His, Eccl, Dosen Sejarah Gereja STF-SP sebagai pembicara terakhir kemudian memberikan keterangan yang lebih terang benderang tentang sejarah awal kristiani di Sulawesi Utara.

Ia memulai dengan kapan baptisan pertama di Sulawesi Utara berdasarkan terbitnya seri buku Documenta Malucensia tahun 1974.

"Di sana disebutkan bahwa pada tahun 1538 sudah dilangsungkan pembaptisan di pantai Utara pulau Sulawesi.

Pembaptis pertama bukan seorang pastor misionaris , melainkan seorang nakhoda kapal Portugis bernama Franscisco de Castro, yang atas perintah komandan benteng Ternate, Antonio Galvao melakukan ekspedisi atau penyelidikan ke daerah-daerah Papua, Sulawesi dan Mindanao.

Faktum itu juga disebut dalam buku versi awal buku Historia das Moluccas karangan Antonio Galvao sendiri, komandan tahun 1536-1540 yang sangat disegani dan dihormati.

Buku kedua ini sebenarnya sudah diterbitkan lebih dulu, tahun 1971.

Kedua buku tebal dan sangat berharga ini diterbitkan dan diberi catatan kritis oleh Hubert Jacobs SJ,"ujarnya.

Bagi Tinangon, pembaptisan itu tidak melulu politis.

Ia mengantar pendengar pada Perjanjian Tordesillas tahun 1494, di mana Paus Alexander VI membagi bola bumi menjadi dua kepada Spanyol dan Portugis.

Saat itu banyak dari mereka yang datang ke daerah jajahan merupakan sampah masyarakat sehingga pembaptisan bisa dianggap politis belaka.

Akan tetapi, Antonio Galvao benar- benar "fokus" pada karya misi.

Ikuti kami di
KOMENTAR
112 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved