Tradisi

Pasiar Tapikong, Sebutan Warga Manado Untuk Cap Go Meh

Khusus di Manado, sejak dahulu masyarakat umum menyebut perayaan Capgomeh dengan istilah "Pasiar Tapikong

Tribun Manado/Finneke Wolajan
Cap Go Meh (4) 

TRIBUNMANADOWIKI.COM - Khusus di Manado, sejak dahulu masyarakat umum menyebut perayaan Capgomeh dengan istilah "Pasiar Tapikong".

Pasiar dalam dialek Manado artinya jalan-jalan.

"Tapikong adalah sebutan merujuk kepada pengertian Toapekong (dialek Hokkian),"kata Sofyan Jimmy Yosadi, SH (Yang Chuan Xian), anggota Dewan Rohaniwan MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) pimpinan tertinggi majelis di seluruh Indonesia.

Dialek Hakka menyebutnya Taipakkung.

Sementara itu, Pinyin menyebutnya Dabogong yang artinya merujuk pada pengertian sosok Shen Ming (Sien Beng) Roh Suci.

Sien Beng secara harafiah artinya leluhur.

Toa artinya tua, Pe artinya paman, Kong artinya Opa, Kakek.

Bagi masyarakat Manado menyebut Pasiar Tapikong adalah menjelaskan bahwa saat Capgomeh para Shen Ming akan keluar dari Klenteng.

Arca atau Kimsin diletakkan di Kio (tandu miniatur Klenteng) akan diarak untuk memberi berkat dan perlindungan bagi umat manusia.

Simbolnya keliling atau jalan mengelilingi beberapa jalan raya (pasiar).

Istilah lain yang berhubungan dengan Capgomeh adalah Xun Jing 巡境 .

Xun Jing secara harafiah memiliki arti Merondai Lingkungan atau berkeliling.

Istilah lain dalam dialek Hokkian (Fujian) adalah Jut Bio atau Keluar Klenteng dan Jiao Keng atau Mengelilingi Lingkungan.

Istilah-istilah tersebut menandakan bahwa maksud diadakan Xun Jing adalah mengusung Kim Sin arca Para Shen Ming keluar Klenteng.

Semua untuk membersihkan lingkungan dan pemukiman dari pengaruh negatif serta memberikan berkat bagi umat manusia tidak terbatas hanya bagi penganutnya saja.

--

(TRIBUNMANADOWIKI.COM/David Manewus)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved