Kesenian

Asal Usul Kesenian Masamper

Masamper, adalah kesenian tradisional masyarakat Noorder Einlanden (bahasa Belanda).

Tribun Manado/Nielton Duredo
Bupati Bolsel Iskandar Kamaru Ikut Masamper 

TRIBUNMANADOWIKI.COM - Masamper, adalah kesenian tradisional masyarakat Noorder Einlanden (Bahasa Belanda).

Noorder Einlanden artinya pulau-pulau lebih utara atau populer disebut Nusa Utara, atau SaTaS (Sangihe, Talaud dan Sitaro).

Masamper merupakan warisan leluhur berharga sejak abad XIII, yang berkembang dan dipelihara secara turun-temurun.

Saat itu bukan Masamper namanya, tetapi Tunjuke (tunjuk).

"Tunjuke dinyanyikan secara massal dalam bentuk paduan suara atau koor sebagai seni pertunjukkan rakyat yang dinamis," kata Soleman Montori, akademisi yang juga mantan kepala bagian humas dan protokoler Kota Manado.

Yang dimaksud dengan Tunjuke adalah, jika lagu selesai dinyanyikan dan orang yang ditunjuk bersamaan dengan berakhirnya lagu dinyatakan sebagai pemimpin baru untuk menyanyikan sebuah lagu.

Lagu itu diikuti oleh seluruh orang yang hadir di tempat itu.

Setelah bangsa Portugis (1563) dan Belanda (1677) masuk ke Indonesia, termasuk Nusa Utara, kesenian tradisional Tunjuke mendapat sentuhan diatonis oleh bangsa Portugis dan Belanda.

Semula, kesenian Tunjuke yang kemudian berubah menjadi Masamper ditunjukkan untuk menyembah dewa tertinggi (i Ghenggona langi); sang pencipta langit dan bumi serta segala isinya.

Dewa tertinggi itu dalam bahasa Sangihe disebut i Ghenggona langi Duatang Saluruang.

Tunjuke yang awalnya hanya sebagai sarana hiburan dan rekreasi dalam acara HUT, peminangan, perkawinan dan kematian dibina oleh para zendeling (misionaris) tukang dari Nederlandsch Zendeling Genootschap (serikat misionaris negeri Belanda).

Pada hari Minggu pembawa Tunjuke diberi kesempatan untuk membawakan kidung pujian di Gereja.

Kelompok penyanyi massal Tunjuke oleh bangsa Portugis disebut zyangeer.

Sedangkan Belanda menyebutnya zangvereniging, yang artinya paduan suara masyarakat.

Ada juga menyebutnya zang vrij (Bahasa Belanda), yang artinya menyanyi bebas.

Sedangkan biduan atau penyanyinya disebut zanger.

Dalam perkembangannya kata zyangeer (Bahasa Portugis), zangvereniging dan zang vrij (Bahasa Belanda) diadaptasi ke dalam bahasa Sangihe menjadi sampri (sampai tahun 1960-an).

Kata itu lalu menjadi samper; kemudian mendapat tambahan awalan me, sehingga menjadi Mesamper.

Selanjutnya, kata Mesamper, karena pengaruh dialek berubah menjadi Masamper, yang artinya menyanyi bersama-sama secara berbalas-balasan.

Secara historis, menyanyi dengan cara berbalas-balasan ditemukan dalam upacara Sundeng.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved