Bahasa

Tiga Tingkatan Bahasa Sangihe

Bahasa Sangihe memiliki tiga tingkatan. Pertama adalah bahasa hormat, Kedua adalah bahasa sedang, Ketiga adalah bahasa kasar

zoom-inlihat foto Tiga Tingkatan Bahasa Sangihe
Istimewa
Ilustrasi Bahasa

TRIBUNMANADOWIKI.COM - Bahasa Sangihe memiliki tiga tingkatan.

Pertama adalah 'bahasa hormat'.

Kedua adalah 'bahasa sedang'.

Ketiga adalah 'bahasa kasar'.

"Bahasa halus atau hormat dipakai untuk raja atau orang terhormat lainnya," kata Soleman Montori, Akademisi juga mantan kepala bagian humas dan protokoler Kota Manado.

'Bahasa sedang' dipakai untuk orang awam atau orang biasa.

Sedangkan 'bahasa kasar' dipakai untuk budak/ menghina/mengumpat.

Misalnya, kata 'Tidur' untuk untuk raja atau orang terhormat lainnya disebut melehedang.

Untuk orang awam disebut metiki/metetiki.

Untuk budak disebut meleluhage.

Contoh lainnya, kata 'Minum' untuk raja disebut medalending.

Untuk orang awam disebut menginung.

Untuk budak disebut meleloge.

Sedangkan sebutan 'Anak' untuk anak raja/orang terhormat disebut ahuse.

Untuk orang biasa disebut ana'.

Untuk budak disebut lesohe.

Selain itu, anak baik laki-laki maupun wanita di dalam bahasa Sangihe memiliki beberapa tingkatan sebutan.

Anak laki-laki raja disebut kasili.

Sedangkan putri raja disebut sangiang.

Anak laki-laki untuk masyarakat awam memiliki beberapa sebutan seperti kalendesang (pria pemberani), opo (anak pria tunggal diantara kakak beradik), ese, ungke (panggilan kesayangan di lingkungan kerajaan), umbaseng (remaja putra), malahinse, dan andi.

Anak perempuan untuk masyarakat awam memiliki beberapa sebutan seperti kawowo, mahuala, momo (panggilan kesayangan di lingkungan kerajaan), bawine, wawu (anak wanita tunggal di antara kakak beradik).

--

(TRIBUNMANADOWIKI.COM/David Manewus)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved