Tokoh

Adam Mattern, Perintis Zending di Tomohon

Pendeta Adam Mattern yang berlatar berlatar belakang "tukang besi" masuk Tomohon pada bulan Juni 1838, sebagai perintis.

Istimewa
Ilustrasi Salib 

TRIBUNMANADOWIKI.COM - Pendeta Adam Mattern yang berlatar berlatar belakang "tukang besi" masuk Tomohon pada bulan Juni 1838, sebagai perintis.

Saat itu, sudah ada dua sekolah dari pemerintah.

Masyarakat Alifuru yang terikat pada foso-foso adat tidak ada yang tertarik kepada perkataannya yang bersumber dari Injil.

Malahan, mereka sering menertawakan dia.

"Berkat kerja keras dalam kesabaran serta ketabahan, akhir tahun 1839, enam orang bersedia dipermandikan lalu diikuti oleh yang lain lagi," ujar HB Palar dan kawan-kawan dalam buku "Bangkitnya Kembali Umat Katolik Tomohon"

Mayoor Tomohon mengizinkan mengadakan kebaktian di rumahnya bergilir dengan perayaan-perayaan foso yang dipimpin oleh para walian.

Berbagai buku diterjemahkannya dalam Bahasa Melayu dibantu oleh istrinya Jacoba Oudshoff.

Namun sayang, istrinya meninggal bulan Oktober 1840 meninggalkan seorang anak.

Mattern sendiri meninggal di Manado akhir 1842 dalam usia 35 tahun.

Ia meninggalkan 600-an murid yang "mulai rajin ke sekolah".

Sebelumnya diketahui, Ds J. Kam merintis karya Zending di Minahasa.

Ia mengutus L. Lamers dan D. Mulller tahun 1822 masing-masing di Kema dan Tanahwangko.

Pendeta G. Jan Helledoorn menata karya para pendeta ini secara permanen sejak tahun 1827.

Pendeta Adam Mattern lalu tiba di Tomohon 1838 dan disebut sebagai perintis Zending di Tomohon.

-

(TRIBUNMANADOWIKI.COM/David Manewus)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved