Etnis

Kelompok-kelompok Etnis di Minahasa

Pertama, Kelompok etnis asli yang besar adalah Tontemboan, Tonsea, Tombulu, dan Tondano. Keempat kelompok etnis ini mendiami sebagian besar wilayah

zoom-inlihat foto Kelompok-kelompok Etnis di Minahasa
Istimewa
Watu Pinabetengan, tempat pembagian wilayah etnis awal

TRIBUNMANADOWIKI.COM - Kelompok etnis ialah kelompok warga yang mempunyai kesamaan daerah asal, bahasa yang dipakai, pengakuan akan leluhur bersama, dan memiliki kebiasaan,adat, serta adakalahnya juga ritual yang dipraktekkan.

Dengan menggunakan batasan ini, dapat dikatakan bahwa Minahasa didiami oleh pelbagai kelompok etnis baik yang sudah lama bermukim di sini dan mengklaim diri sebagai penduduk asli, maupun pendatang kemudian transmigrasi.

Pertama, Kelompok etnis asli yang besar adalah Tontemboan, Tonsea, Tombulu, dan Tondano. Keempat kelompok etnis ini mendiami sebagian besar wilayah Minahasa.

Kedua, kelompok etnis pendatang awal ialah Pasan/Bentenan/Ratahan, Tonsawang, dan Ponosakan. Ketiganya berada di wilayah Selatan Minahasa serta suku Bantik yang berdiam kini di wilayah utara Manado.

Ketiga, kelompok etnis di daerah kepulauan dan pesisir pantai yaitu Suku Babontehu di kepulauan utara Manado, seperti di pulau Manado Tua, Siladen, Bunaken, Naen, yang juga didiami oleh suku laut Bajo, serta suku-suku dari Ternate, dan Tidore, Sanger dan Talaud yang mendiami kawasan pesisir pantai sepanjang daratan Minahasa.

Kelompok etnis ini dinilai jarang mendapat perhatian dan tidak diperhitungkan sebagai bagian dari kelompok-kelompok etnis Minahasa; alasannnya ialah kebanyakan penduduk Minahasa tidak bergiat sebagai nelayan di laut tetapi sebagai petani.

Keempat, kelompok etnis yang mendiami satu dua desa saja atau satu bagian desa entah karena alasan politik maupun perdagangan.

Di sebelah selatan Minahasa, suku Mongondow mendiami desa Torout sebagai tanda bekas peperangan antara Mongondow dengan suku-suku Minahasa Selatan.

Akibat perang Padri di Sumatera dan Diponegoro di Jawa di abad 19, pemerintah kolonial Belanda mengasingkan Kiai Maja dengan pendukungnya di kawasan Tondano, yang kini lazim di kenal dengan 'orang Jawa Tondano' (Babcock 1989), dan Imam Bonjol dan pengikutnya di kawasan Lotta yang kemudian berpindah ke desa Pineleng Satu; kedua kelompok ini sudah membaur dengan suku-suku Minahasa lewat proses kawin-mawin.

Pada awal abad 20 pemerintah Belanda juga mengirim petani Jawa untuk bekerja di perkebunan (onderneming) di daerah desa Sea, kecamatan Pineleng, dan juga di desa Bojonegoro, kecamatan Tompaso Baru.

Kelompok Jawa di Bojonegoro ini agak terisolir dari Minahasa.

Kelompok etnis yang relatif kecil jumlahnya dan masuk Minahasa karena perdagangan ialah orang-orang Cina.

Mereka mendiami daerah pecinan di bagian Utara kota Manado dan kurang kurang membaur dengan suku-suku di Minahasa, dan di daerah desa Kakaskasen Satu tapi sudah kawin-mawin dengan penduduk lokal, serta di kawasan perdagangan di pusat-pusat kota seperti di Tomohon, Tondano dan Amurang. Perlu ditambahkan pula suku Gorontalo yang bergiat sebagai pedagang eceran di pasar-pasar tradisional Minahasa.

Demikian terdapat pelbagai kelompok etnis yang mendiami kawasan bumi Toar-Lumimuut, nama julukan Minahasa yang diambil dari leluhurnya.

Dari data sensus penduduk oleh BPS disinyalir bahwa penduduk asli Minahasa (kelompok etnis asli yang besar dan kelompok etnis pendatang awal) yang mendiawi kawasan ini berjumlah sekitar 60 persen saja, sedangkan yang lainnnya adalah suku-suku pendatang yang sudah juga beranak-pinak tapi agak terisolir dan membentuk kesatuan tersendiri di samping suku-suku Minahasa. (TRIBUNMANADOWIKI.COM/David Manewus)

Ikuti kami di
KOMENTAR
217 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved