Sejarah

Sonder pada Abad 19

Menurut tradisi lisan yang direkam oleh JAT Schwarz (1907: n.212-2, no. 64), diakui Sersan Kompeni di Manado, berdasarkan permintaan Pesitj,

Tribun Manado/Ferdinand Ranti
Taman Eman Sonder 

TRIBUNMANADOWIKI.COM - Dikisahkah dua distrik yaitu; distrik Kawangkoan dan Sonder (sekarang Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), menurut tradisi lisan yang direkam oleh JAT Schwarz (1907: n.212-2, no. 64), diakui Sersan Kompeni di Manado, terpisah berdasarkan permintaan Pesitj, seorang kepala desa. (Renwarin, 2019: hal 198-201).

Desa Sonder ini didirikan oleh Karamoi, anak dari Wolo, kepala distrik Kawangkoan.

Pada masa Lengkong menjadi kepala distrik Kawangkoan, distrik ini diharuskan memasok 50 balok kayu untuk benteng kompeni di Manado.

Jatah pasokan ini dibagi menjadi dua: 25 balok ditagih dari Kawangkoan, sedangkan 25 lainnya dari desa baru, Sonder;

Desa ini dipimpin oleh Pesitj, cucu dari Kawatu, asal Kawangkoan.

Pada suatu saat, penduduk Sonder tidak mau mengumpulkan balok kayu tagihan ini untuk dibawa kepala distrik Kawangkoan, dan selang beberapa waktu kemudian Pesitj sendiri menghadap Sersan Kompeni untuk menyerahkan tagihan wajib ini sambil meminta legitimasi pemisahan wilayah ini.

"Demikian Sonder menjadi suatu desa tersendiri," ujar Renwarin.

Berdasarkan perjanjian di Benteng Amsterdam di Manado, 14-9-1810, masing-masing kepala distrik harus menyerahkan bahan baku untuk reparasi benteng ini (Molsbergen G, 1927: 171-180).

Justru karena orang Sonder tidak mau bergabung dengan Kawangkoan, daerah asalnya, akhirnya desa baru ini diakui oleh penguasa semata.

Namun demikian, daerah kawasan Sonder pada abad 19 bukanlah suatu daerah yang makmur, justru sebaliknya, miskin, tidak sehat, dan terkebelakang.

Laporan N. Graafland (1991 (1869): 171-180 melukiskan situasi hidup di Sonder.

Laporan bernada suram tentang Sonder ini memakai tolak ukur antara lain komoditas unggulan semasa, yaitu padi.

Padi yang menjadi produk ekspor Minahasa sejak abad ke 17 sampai abad 19 masih diolah dengan sistem ladang, dan baru pada pertengahan abad 19 pemerintah Belanda memperkenalkan sistem sawah beririgasi untuk kawasan Minahasa.

Daerah yang terkenal karena padi ialah wilayah barat danau Tondano, dataran rendah tepi danau Tombatu, dan beberapa lokasi di daerah Tombulu.

Justru perdagangan padi inilah yang menjadi alasan orang Spanyol-Portugis dan Belanda untuk bertahan di Minahasa.

Tetapi kawasan Sonder yang berbukit-bukit curam pada ketinggian antara 300-700 meter ini merupakan hambatan untuk sistem tanaman subsisten.

Lingkungan alam demikian tidak menyokong pengembangan kesejahteraan dan kebanyakan penghuninya bergiat sebagai perambah hutan dan peladang berpindah-pindah pada lahan yang kecil dan semakin kurang subur.

Namun, yang unik ialah seorang asal Sonder, yaitu Albertus Bernardus Waworuntu, cucu tertua dari HW Dotulong, mayor Sonder, dipilih dalam tahun 1845 oleh Gubernur Amboina sebagai salah seorang pemuda yang paling cakap untuk mempelajari sistem budidaya padi basah di Jawa.

Sepulangnya ke kampung halamannya dia menduduki beberapa kursi penting dalam pemerintahan, termasuk menjadi jaksa.

Sesudahnya dia menjabat mayor Sonder.

Kariernya begitu mengesankan pemerintah Belanda, sehingga dia dianugerahkan medali emas atas jasa-jasa sipilnya pada tahun 1876, suatu penghargaan yang baru pertama kali diterima oleh seorang Minahasa (Schouten 1987: 125).

Sumber: Dr. Paul Richard Renwarin, Langgam Budaya, 2019

(TRIBUNMANADOWIKI.COM/David Manewus)

Ikuti kami di
KOMENTAR
228 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved