Yosi Mokalu, Dari Project Pop Hingga Pelatih Influencer Pemerintah

Nama pentolan musik Project Pop, Yosi Mokalu, tiba-tiba menjadi buah bibir di kalangan netizen

Editor: muhammad irham
internet
Yosi Mokalu 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Nama pentolan musik Project Pop, Yosi Mokalu, tiba-tiba menjadi buah bibir di kalangan netizen. Hal itu lantaran namanya disebut sebagai pemimpin program peningkatan literasi digital di kalangan masyarakat.

Nama Yosi disebut oleh Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Henri Subiakto dalam acara Dua Sisi yang disiarkan secara live oleh stasiun televisi TVOne, Kamis (27/8/2020).

Selain Henri Subiakto, acara itu juga dihadiri oleh Ali Muchtar Ngabalin serta Rocky Gerung.

"Dia (Yosi) yang melatih digital literacy kepada publik, kepada mahasiswa, kepada masyarakat untuk menjadi influencer," kata Henry.

Siapa sebenarnya Yosi yang menjadi buah bibir itu?

Yosi lahir dengan nama lengkap Hermann Josis Mokalu pada 27 November 1970 lalu. Namun dia lebih akrab disapa dengan sebutan Yosi.

Pada 2008, Yosi berhasil menyelesaikan kuliahnya di FISIP, Universitas Pahrayangan, Bandung.

Tidak berhenti di S1, Yosi melanjutkan pendidikan S2 dengan mengambil Jurusan Manajemen Strategi di Sekolah Tinggi Manajemen PPM.

Walau pun memiliki gelar S2 Manajemen Strategi, nama Yosi tenar sejak menata karier musik bersama Project Pop. Ia bergabung dengan grup musik ternama itu sejak 1995 silam.

Bersama dengan Project Pop, Yosi berhasil merilis 6 album. Di antaranya adalah Bakpia vs Lumpia (1996), Tu Wa Ga Pat (2000), Bli Dong Plis (2001), Pop Ok (2003), Pop Circus (2005), dan Six a Six (2006).

Pada 11 November 2006, Yosi memantapkan diri untuk menikahi seorang perempuan bernama Aprilla Iryani Fahani Faisal di Seminyak, Bali.

Sebagai keluarga artis, rumah tangga Yosi dan sang istri jauh dari gosip mau pun kabar miring.

Menurut Henry, Siberkreasi adalah program pemerintah untuk melatih masyarakat agar lebih meningkatkan literasi digital. Sehingga, masyarakat bisa menjadi influencer bahkan hingga aktivis di dunia digital.

"Sehingga mereka bisa jadi influencer. Influencer itu rakyat, masyarakat yang memiliki kreativitas, sehingga dia bisa mengomunikasikan yang baik, sehingga terbentuk kekuatan civil society ini, lalu salahnya apa?," ujarnya.

Persoalan influencer ini mencuat setelah Indonesia Corruption Watch (ICW) melaporkan temuannya soal anggaran pemerintah untuk jasa influencer.

Hasil temuan ICW menyebut, pemerintah menggelontorkan anggaran Rp90,45 miliar untuk jasa influencer.

Jumlah tersebut merupakan bagian dari anggaran belanja pemerintah pusat terkait aktivitas digital sejak 2014-2020 yang mencapai Rp1,29 triliun.

Di mana dari jumlah itu, Rp90,45 miliar disebutkan untuk aktivitas digital yang melibatkan jasa influencer.

“Jokowi tidak percaya diri dengan program-programnya hingga harus menggelontorkan anggaran untuk influencer,” demikian bunyi keterangan tertulis ICW.(*/tribunmanado.co.id)

Ikuti kami di
KOMENTAR
306 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved