Internasional

Dituduh Lakukan Genosida di Xinjiang, China Beberkan Data Pertambahan Populasi Muslim Uighur

Populasi masyarakat Muslim di Xinjiang dikatakan meningkat sebanyak seperempat populasi menjadi 1,5 juta antara 2010 dan 2018.

Editor: Isvara Savitri
AFP/Hector Retamal
Foto ini diambil pada 11 September 2019 menunjukkan seorang pria mengendarai kendaraan di lingkungan etnis Uighur di Aksu, Xinjiang. Otoritas China melakukan sterilisasi paksa terhadap perempuan dalam opersi menahan pertumbuhan populasi etnis minoritas di wilayah Xinjiang barat, menurut penelitian yang diterbitkan pada 29 Juni 2020. 

TRIBUNMANADOWIKI, BEIJING - Senin (22/2/2021) Menteri Luar Negeri China Wang Yi memberi pernyataan terkait tuduhan genosida di Xinjiang.

Di Dewan HAM PBB di Jenewa melalui video, ia membantah negaranya telah melakukan genosida tersebut.

Dikutip dari South China Morning Post, Wang mengatakan tuduhan tersebut adalah fitnah.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, kelompok dan pakar hak asasi manusia menyatakan ada setidaknya 1 juta Muslim di Xinjiang yang diperlakukan tidak baik. 

Mereka yang berasal dari latar belakang etnis minoritas dikabarkan ditahan secara sewenang-wenang di kamp-kamp interniran besar-besaran. 


Masjid Keriya Aitika pada November 2018. Gerbang dan kubahnya telah dihilangkan, bagian dari penghancuran masjid di Xinjiang oleh otoritas China. (Planet Labs)

“Tidak pernah ada yang seperti genosida, kerja paksa dan penindasan agama. Klaim sensasional ini berakar pada ketidaktahuan, prasangka, dan hype politik yang murni fitnah, ”katanya.

China telah membantah klaim tersebut, dengan mengatakan bahwa mereka hanya mengambil tindakan untuk memerangi ekstremisme dan memberikan pelatihan kejuruan.

Pada bulan Januari, Amerika Serikat (AS) menuduh China melakukan "genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan" atas perlakuan terhadap Uygur dan kelompok etnis minoritas lainnya di Xinjiang, dengan alasan pemenjaraan, penyiksaan dan kerja paksa.

Tuduhan dan kekhawatiran ini menjadi batu sandungan utama bagi China dan Uni Eropa dalam mencapai Perjanjian Komprehensif awal tentang Investasi.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved