Kudeta Militer Myanmar

Amnesty Internasional Minta PBB dan Komunitas Internasional Hentikan Kekerasan Militer di Myanmar

“Banyak pembunuhan yang didokumentasikan merupakan eksekusi di luar hukum,” kata kelompok hak asasi manusia.

Editor: Isvara Savitri
Stringer/Reuters
ILUSTRASI. Unjuk rasa menolak kudeta militer di Naypyitaw, Myanmar, 8 Maret 2021. 

TRIBUNMANADOWIKI, JAKARTA - Militer Myanmar dinilai menggunakan taktik mematikan untuk melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap para demonstran yang menentang kudeta.

Hal ini diungkapkan oleh Amnesty Internasional usai menganalisis bukti video dan foto pada Kamis (11/3/2021).

Dalam laporannya, Amnesty menyebut sebanyak 55 klip menunjukkan bukti visual dari pembunuhan sistematis dan terencana.

Laporan ini digunakan untuk meminta Dewan Keamanan PBB dan komunitas internasional untuk mengambil tindakan terkait kekerasan tersebut.

“Taktik militer Myanmar ini jauh dari baru, tetapi pembunuhan mereka belum pernah disiarkan langsung ke dunia untuk melihatnya,” kata Joanne Mariner, direktur Respon Krisis di Amnesty International.

Aparat keamanan memukuli dengan tongkat besi seorang pengunjuk rasa wanita dan seorang pengunjuk rasa pria yang tertangkap saat aksi demonstrasi menentang kudeta militer di Monywa pada 27 Februari 2021. Seorang wanita dilaporkan tewas tertembak mati saat demo di Myanmar dan dilaporkan total sudah 5 orang tewas akibat tindakan kekerasan polisi dan tentara dalam menangani demo.
Aparat keamanan memukuli dengan tongkat besi seorang pengunjuk rasa wanita dan seorang pengunjuk rasa pria yang tertangkap saat aksi demonstrasi menentang kudeta militer di Monywa pada 27 Februari 2021. Seorang wanita dilaporkan tewas tertembak mati saat demo di Myanmar dan dilaporkan total sudah 5 orang tewas akibat tindakan kekerasan polisi dan tentara dalam menangani demo. (STR/AFP)

Amnesty memverifikasi lebih dari 50 video dari tindakan keras yang sedang berlangsung dan mengonfirmasi bahwa pasukan keamanan "tampaknya menerapkan strategi sistematis yang terencana termasuk peningkatan penggunaan kekuatan mematikan".

“Banyak pembunuhan yang didokumentasikan merupakan eksekusi di luar hukum,” kata kelompok hak asasi manusia.

Rekaman itu dengan jelas menunjukkan bahwa pasukan militer Myanmar, yang juga dikenal sebagai Tatmadaw, "semakin dipersenjatai dengan senjata yang hanya sesuai untuk medan perang, bukan untuk tindakan kepolisian," tambah laporan itu.

Baca juga: Isak Tangis Warnai Kepulangan Korban Kecelakaan di Sumedang, Keluarga Berjejer di Halaman Rumah

Baca juga: Mengenal Bibimbap, Makanan Korea yang Diambil dari Sesajen untuk Arwah Leluhur

Petugas ditangkap dalam video yang sering terlihat terlibat dalam "perilaku sembrono", termasuk penggunaan amunisi aktif secara sembarangan.

Temuan terbaru mendukung laporan Februari dari Amnesty yang menyimpulkan pasukan keamanan mengerahkan senapan mesin terhadap pengunjuk rasa damai dan menembak kepala seorang wanita selama demonstrasi anti-militer pemerintah.

Pada hari Rabu, petugas polisi yang melarikan diri ke India, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa mereka diperintahkan oleh militer untuk memilih demonstran dan untuk "menembak" sampai mereka mati.(*)

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Militer Myanmar dinilai telah menggunakan taktik mematikan terhadap pengunjuk rasa.

Sumber: Kontan
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved