Kudeta Militer Myanmar

Cerita Demonstran Kudeta Militer Myanmar yang Ditahan di Ruang Neraka, Dipukul Menggunakan Rantai

Menurut kesaksian seorang pria yang ditahan, para pengunjuk rasa yang ditahan dipukul di punggung, leher, dan bahu.

Editor: Isvara Savitri
STR/AFP
Situasi Myanmar. Seorang pengunjuk rasa berlari sebagai pasukan keamanan (atas L) mengarahkan senjata selama demonstrasi menentang kudeta militer di Mandalay pada 2 Maret 2021. 

TRIBUNMANADOWIKI, YANGON - Seorang pengunjuk rasa mengaku ditahan oleh pasukan militer Myanmar selama tiga jam.

Ia ditahan di ruangan yang disebut "ruang neraka".

Penahanan tersebut dilakukan sebagai bagian dari tindakan keras terhadap para demonstran yang menolak kudeta militer.

Dalam ruangan tersebut ia mengaku dipukul menggunakan ikat pinggang, rantai, tongkat bambu, dan pentungan.

Pria yang ditahan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa ia merupakan satu dari 60 orang yang ditangkap pada Selasa (9/3/2021) oleh polisi di Myeik.


Sejumlah massa yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) melakukan aksi solidaritas di depan Kedutaan Besar Myanmar, Jakarta Pusat, Rabu (10/3/2021). Dalam aksi solidaritas tersebut, massa mengutuk keras atas kudeta militer dan mendesak penegakan demokrasi serta perlindungan HAM di Myanmar. Tribunnews/Herudin (Tribunnews/Herudin)

Ia ditangkap saat bersembunyi di sebuah rumah usai aksi protes dibubarkan.

Tidak sekadar berbicara, pria itu juga memberikan foto-foto yang diambil oleh keluarganya dengan menunjukkan luka di punggung, leher, dan bahunya.

Reuters telah memverifikasi bahwa foto-foto itu adalah benar pria tersebut.

Dan pihak keluarganya yang mengambil fotonya. 

Reuters memberitakan, pria tersebut bercerita bahwa para pengunjuk rasa dimasukkan ke dalam truk dan diserahkan kepada pasukan di pangkalan udara Myeik, di mana para pria dipisahkan dari wanita, difoto dan dibawa ke sebuah ruangan.

Baca juga: Banyak Terjadi Pembekuan Darah Usai Vaksinasi, 8 Negara Eropa Tangguhkan Penggunaan AstraZeneca

Baca juga: Mengenal Gochujang, Past Cabai yang Banyak Digunakan dalam Masakan Korea

Pria itu enggan menyebut nama karena takut ditahan lagi.

Reuters tidak dapat mencapai pangkalan udara tersebut untuk dimintai komentar.

"Kami dipukuli sepanjang waktu bahkan saat kami berjalan ke kamar. Para prajurit berkata, 'Ini adalah ruang neraka, mengapa kalian tidak mencicipinya?'" katanya.

Dia menjelaskan semua pengunjuk rasa yang ditahan disuruh berlutut.

Selain itu, lima dari kelompok itu diberitahu untuk saling berhadapan saat mereka dipukuli di punggung, kepala, leher dan samping. 


Seorang pengunjuk rasa memegang poster yang menampilkan kepala angkatan bersenjata Myanmar Jenderal Senior Min Aung Hlaing selama demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada 9 Maret 2021. (STR / AFP)

Dia mengatakan dia kemudian dibebaskan bersama dengan beberapa orang lainnya tanpa penjelasan.

Beberapa lainnya ditangkap secara resmi dan dikirim ke penjara.

Seorang juru bicara militer tidak menjawab panggilan untuk mengomentari tuduhan pria itu.

Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
1582 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved