Tari Tradisional

Mengenal Tari Dinggu Asal Sulawesi Tenggara, Gambarkan Semangat Gotong Royong Saat Panen

Tari Dinggu merupakan sebuah tarian enerjik yang menggambarkan semangat petani saat memanen hasil sawahnya.

Editor: Isvara Savitri
zoom-inlihat foto Mengenal Tari Dinggu Asal Sulawesi Tenggara, Gambarkan Semangat Gotong Royong Saat Panen
YoTube
Ilustrasi Tari Dinggu

TRIBUNMANADOWIKI - Tari Dinggu merupakan tarian tradisional dari Sulawesi Tenggara (Sultra).

Tari ini berkisah tentang suasana dan aktivitas masyarakat saat musim panen tiba.

Tarian ini menggambarkan semangat gotong royong masyarakat dalam melakukan sesuatu, khususnya saat musim panen.

Semangat kebersamaan dan gotong royong memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Tolaki di Sultra.

Tari Dinggu adalah salah satu tari tradisional Suku Tolaki yang kemudian dikemas dalam kreasi baru khususnya di daerah Kerajaan Mekongga (berada di Kabupaten Kolaka).

Baca juga: Cerita Teja Sutedja, Pria Lumpuh Berusaha Selamatkan Anaknya Saat Kilang Minyak Balongan Meledak

Baca juga: Pernah Perankan Kapten Pierre Tendean, Wawan Wanisar Meninggal Dunia di Usia 71 Tahun, Ini Profilnya

Tarian itu menceritakan tentang suku cita petani ketika menyambut dan melaksanakan panen padi di sawah.

Tari Dinggu adalah suatu tari yang energik dan ceria menggambarkan betapa semangatnya petani memanen padi berkat keberadaan Dewi Padi atau Dewi Sri (Sanggole Mbae).

Di mana memberikan keberkahan atau usaha yang dilakukan serta dipercaya menjaga kesuburan padi.

Melalui tarian tradisional tersebut para petani juga memberikan rasa syukur atas limpahan panen yang diterima.

Lewat tari Dinggu juga, masyarakat bisa melihat secara tidak langsung visual kehidupan petani pada suku Tolaki pada zaman dahulu.

Sejarah

Berdasarkan sejarahnya, tarian ini berawal dari kebiasaan masyarakat Tolaki saat panen raya, terutama masa panen padi.

Mereka melakukan aktivitas panen tersebut secara bergotong-royong atau bersama-sama, mulai dari memetik padi, mengangkat padi, dan lain-lain.

Setelah padi terkumpul semua maka diadakan Modinggu, yaitu semacam menumbuk padi secara masal yang dilakukan oleh para muda-mudi.

Setelah acara Modinggu selesai kemudian diakhiri dengan Lulo bersama sebagai hiburan serta melepas lelah.

Selain itu Lulo juga dilakukan untuk mempererat kebersamaan mereka.

Tradisi ini terus berlajut di kalangan masyarakat Tolaki, hingga akhirnya menjadi suatu tarian yang disebut dengan Tari Dinggu ini.

Gerakan

Gerakan penari pria dan penari wanita dalam Tari Dinggu ini pada dasarnya berbeda.

Pada gerakan penari pria biasanya didominasi dengan gerakan memainkan alu dan gerakan yang dilakukan lebih lincah.

Ikuti kami di
KOMENTAR
1666 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved