Profil Marsekal Pertama Satriyo Utomo, Danlanud Samrat Manado

Satrio Utomo lahir di Tarakan, Kalimantan Utara pada 10 Desember 1973.Dia menikah dengan Reni Triwijayanti atau Reni Satriyo Utomo

Penulis: Aldi_Ponge
Editor: Aldi_Ponge
ISTIMEWA
Marsma TNI Satriyo Utomo 

TRIBUNMANADO.CO.ID - ProfilMarsekal Pertama Satriyo Utomo, Komandan Lanud Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara.      

Satrio Utomo lahir di Tarakan, Kalimantan Utara pada 10 Desember 1973

Dia menikah dengan Reni Triwijayanti atau Reni Satriyo Utomo

Marsekal Pertama Satriyo Utomo adalah alumnus Akademi Angkatan Udara (AAU) 1995. 

Kini dia menjadi Komandan Lanud Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara.

Sebelumnya, Satriyo Utomo menjabat sebagai Danlanud Sultan Iskandar Muda, Aceh.

Satriyo Utomo menjadi Komandan Lanud Sam Ratulangi Manado menggantikan Kolonel Pnb Abram Tumanduk.

Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara II (Pangkoopsau II) Marsekal Muda (Marsda) TNI Minggit Tribowo SIP menjadi inspektur upacara serah terima jabatan Danlanudsri Manado yang berlangsung di Gedung Suryadi Surya Dharma, Markas Komando Operasi TNI Angkatan Udara II. Selasa, (09/03/2021).

Satriyo Utomo  penerbang pesawat tempur yang memiliki callsign “Serpent”. 

Raih 1.000 Jam Terbang Hawk MK-53

Satriyo Utomo mencapai puncak karier sebagai Penerbang Tempur.

Satriyo Utomo peraih 1.000 jam terbang menggunakan pesawat tempur Hawk MK-53.

Hal ini diraih ketika melaksanakan latihan ISL/ASL dari Lanud Iswahjudi, Magetan ke wilayah Yogyakarta di atas ketinggian 8.000 feets.

Bagi seorang penerbang tempur, meraih 1.000 jam terbang merupakan hal yang sangat membanggakan sekaligus tantangan.

Tidak semua penerbang tempur dapat meraih 1.000 jam terbang, di samping membutuhkan waktu yang lama juga perlu kerja keras dan latihan yang terus menerus dan butuh profesionalitas yang tinggi.

Sejarah Pangkalan Udara Sam Ratulangi

Dilansir, situs tni-au.mil.id, Pangkalan TNI Angkatan Udara Sam Ratulangi terletak di Kota Manado, Sulawesi Utara

Berdirinya Lanud Sam Ratulangi ini berawal pada tahun 1939 pemerintah Belanda membangun Lapangan Udara untuk kepentingan militernya di ujung selatan danau Tondano daerah Celebes.

Lapangan Udara berukuran panjang 1650 m dan lebar 90 m tersebut dikenal dengan nama Lapangan Udara Kalawiran.

Pada saat Perang Dunia II tahun 1941, Belanda memusatkan kekuatan penerbangannya di Lapangan Udara Kalawiran.

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved